22
Mar
10

Simbol-simbol Kemewahan

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang bertakwa lagi kaya yang menyembunyikan simbol-simbol kekayaannya (kemewahannya).” Sering terjadi kesalahan pandangan dan persepsi di sebagian masyarakat kita bahwa Islam adalah agama yang tidak mendorong umatnya untuk memiliki kekayaan. Cukuplah umat Islam itu menjadi umat yang miskin yang tidak menguasai sektor-sektor kehidupan. Umat Islam harus cukup puas dengan kegiatan di masjid dan di majelis taklim. Sedangkan kegiatan di sektor-sektor ekonomi, industri, pasar, dan yang lainnya diserahkan kepada non-Muslim.

Tentu saja pandangan semacam ini sangat berbahaya karena akan mengakibatkan umat Islam selalu terpinggirkan dan tidak akan mampu menguasai sektor-sektor strategis yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan. Hadis tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang beriman yang memiliki kekayaan yang didapatkan dengan cara-cara yang elegan, transparan, dan sportif, yang sesuai dengan norma dan etika Islam. Bukan kekayaan yang didapatkan melalui cara-cara yang tidak halal seperti kegiatan riba, menipu, korupsi, dan cara-cara kotor lainnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah 188, ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta tersebut dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”

Cukup banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang menyuruh umat Islam untuk kaya. Misalnya ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersedekah, berinfak, berzakat, serta membantu fakir miskin, dan yatim-piatu. Untuk bisa bersedekah dan berzakat, misalnya, tentu orang yang bersangkutan harus berkecukupan. Semakin orang itu berkecukupan alias kaya, zakat dan sedekah yang dikeluarkan tentu akan semakin banyak. Juga hadis Nabi SAW yang menyatakan ”tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” dan ”Muslim yang kuat lebih baik dari Muslim yang lemah”. Semua itu menunjukkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk kaya.

Namun, kekayaan atau harta yang didapatkan haruslah dengan cara-cara yang halal. Kehalalan inilah yang akan mendorong pemiliknya memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Dan, itulah yang terjadi pada diri sahabat Nabi Muhammad SAW yang kaya seperti Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf. Para sahabat tersebut kekayaannya tampak pada sikap mereka di dalam berinfak, bersedakah, dan berkorban untuk kepentingan agama serta pembangunan masyarakat.

Bukan pada penampakan simbol-simbol kekayaan dan kemewahan yang pada saat ini dianggap sebagai sebuah kebutuhan, keharusan, dan keniscayaan. Menyembunyikan simbol-simbol kemewahan pada saat sebagian besar masyarakat sedang menderita, jelas harus dilakukan, apalagi kemewahan yang berkaitan dengan jabatan seperti tergambar pada rumah dinas, mobil dinas, dan fasilitas wah lainnya. Sungguh sangat menyakitkan perasaan masyarakat apabila untuk pakaian dinas seorang kepala daerah saja sampai menghabiskan ratusan juta rupiah. Untuk itu, upaya pimpinan MPR periode 2004-2009 yang menolak fasilitas yang terkesan mewah merupakan langkah yang perlu diikuti oleh semua pejabat publik dari pusat sampai daerah, agar masyarakat semakin yakin bahwa perasaan para pejabat adalah sama dengan perasaan mereka. Wallahu a’lam bis-shawab.

Oleh : KH Didin Hafidhuddin


0 Responses to “Simbol-simbol Kemewahan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: