22
Mar
10

Menggapai kebahagiaan Yang Hakiki

Peluh menetes membasahi wajahku, padahal hari itu belum genap pukul tujuh pagi. Dua tentengan berat berisi kue-kue yang akan kutitipkan di koperasi sekolahku, telah cukup membuat aku berpeluh sepagi ini. Kulihat temen-temen yang tertawa riang, sambil bergandengan tangan dan bercanda menuju ke sekolah pula, tanpa harus dibebani dengan kantong tentengan seperti aku.

Ya… beginilah masa kecilku. Sebagai anak sulung, aku harus turut menanggung beban ekonomi keluargaku. Gaji ayahku yang “murni” pegawai negeri tak mampu menutupi kebutuhan keluarga dengan empat orang anak ini. Setiap hari aku harus ke sekolah dengan kantong plastik besar yang cukup berat. Setiap istirahat aku bantu-bantu di koperasi sekolah agar dapat “jajan gratis”. Sepulang sekolah aku pun harus berjalan kaki yang cukup jauh menuju stamplat bis terdekat agar bisa naik bis dengan ongkos murah meriah.

Ah, andaikata aku jadi orang kaya seperti teman-temanku yang selalu diantarjemput, uang saku yang berlimpah, mau apa saja tinggal bilang sama orang tua. Hanya satu yang ada di benakku, aku ingin jadi orang kaya, karena orang kaya selalu terlihat bahagia.

Kadang aku diminta orang tua temanku tuk mengajari anaknya matematika, padahal aku sama-sama masih belajar juga. Alhamdulillah sepulang mengajar anaknya, ibu itu menyelipkan beberapa lembar ribuan di saku bajuku. Akh, benar-benar suatu kebahagiaan yang tiada taranya bagiku.

Dari sore sampai malam aku membantu ibuku membuat kue untuk esok harinya. Kadang-kadang aku tak ada waktu buat belajar. Tapi alhamdulillah Allah memberiku otak yang cukup encer, sehingga aku cukup mendengarkan penjelasan guru dan itu dapat kuingat dan tersimpan dalam memoriku. Buku-buku selalu komplit karena dapat hadiah dari sekolah setiap kenaikan kelas.

Tapi setelah memasuki SMA yang terbilang favorit di kotaku ini, aku sangat keteteran mengejar pelajaran. Kegiatan di rumah yang lumayan menyita waktuku sehingga tak sempat mengerjakan PR, buku-buku yang tak sanggup aku beli dan kadang-kadang membolos karena tak ada ongkos sehingga sering ketinggalan beberapa mata pelajaran. Prestasiku menurun drastis karena yang ada di pikiranku adalah uang. Bagaimana aku harus mencari uang, supaya hidup kami tidak selalu menderita begini. Pertengkaran demi pertengkaran orang tua karena masalah ekonomi mewarnai kehidupanku. Itu semua makin menyurutkan semangat belajarku, aku ingin cari uang, aku ingin kaya, aku ingin meringankan beban orang tuaku. Aku berfikir saat itu uang adalah segala-galanya, uang yang dapat meredakan semua masalah , uang adalah sumber kebahagiaan.

Tapi saat ini aku merenung, aku telah mendapatkan semua yang aku inginkan. Uang, rumah, kendaraan, keluarga, tapi hidupku terasa hampa. Uang tak dapat membuatku tersenyum bahagia, rumah yang luas terasa biasa saja, kendaraan ber-AC pun tak dapat ternikmati olehku, keluarga, ach aku seperti hidup sendiri. Kemanakah larinya kebahagiaan itu ? Aku selalu merasa kesepian, gelisah, sakit dan ketakutan.

Kemanakah diri ini kan berlari lagi tuk dapatkan kebahagiaan?

Ternyata selama ini aku salah. Ternyata kebahagiaan itu berasal dari hati. Kebahagiaan itu hanya jika kita mendekatkan diri padaNya. Kebahagiaan itu terdapat dalam ma’rifatullah, mengesakanNya, mencintaiNya, merindukan pertemuan denganNya, bertautnya hati dan tujuan hanya kepadaNya.

Ya Allah selama ini aku sangat jauh dariMu. Kelebihan materi tidak menjamin kebahagiaanku. Semua itu malah melenakanku, menjauhkan aku dariMu, mengurangi rasa syukurku, mengurangi sujud-sujud malamku. Aku tlah khilaf, aku tlah lupa bagaimana sewaktu hidup susah dulu ku selalu di dekatMu, memohon hanya kepadaMu. Kenikmatan dunia ini benar-benar telah melupakanku bahwa Engkaulah yang memberi semua ini, karena Engkaulah berlimpahnya rezeki ini. Karena Engkaulah berhasilnya karir ini.

Ampuni aku yaa Ghafuur,
Ampuni aku yang tlah lalai akan perintahMu,
Ampuni aku yang tlah melanggar laranganMu,
Bimbinglah aku tuk berjalan kembali ke arahMu,
Aku ingin selalu ada di dekatMu.

Aku ingin dapat kebahagiaan yang hakiki.

Amien.


0 Responses to “Menggapai kebahagiaan Yang Hakiki”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: