20
Mar
10

Seputar Kemukjizatan al-Qur’an

Kemukjizatan al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam banyak sekali mukjizat. Diantaranya, terbelahnya rembulan menjadi dua bagian, kerikil yang ada di tangannya mengucap kalimat tasbih, memancarnya air dari sela-sela jemarinya, serta beliau mampu mengubah makanan sedikit menjadi banyak hingga mencukupi kebutuhan orang banyak.

Dan, mukjizat paling agung yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau adalah al-Qur’an. Al-Qur’an al-Adhim adalah mukjizat agung yang memberi khitab (perintah) kepada hati dan akal fikiran, dan dia adalah mukjizat yang kekal abadi sampai hari kiamat nanti. Dan, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menantang kaumnya yang fasih (lancar dan benar tutur katanya) dan baligh (mendalam makna ucapannya) untuk membuat padanan atau tandingan yang menyerupai al-Qur’an ini, atau minimal satu surat yang menyerupainya, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Hal ini dilakukan oleh beliau seiring dengan gencarnya permusuhan mereka yang mendorong mereka untuk menentang/melawan al-Qur’an demi untuk memusnahkan agama (Islam) ini. Akan tetapi, mereka sekali-kali tidak pernah menemukan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Jika orang-orang Arab saja tidak sanggup membuat kitab tandingan yang menyamai al-Qur’an ini, maka tentunya selain mereka (non Arab) lebih tidak mampu lagi. Hal itu, mengingat orang-orang Arab yang merupakan obyek pertama diturunkannya al-Qur’an tersebut, adalah para pakar yang memiliki kemampuan berbahasa secara fasih dan baligh. Dan, sejarah telah mencatat bahwasanya al-Qur’an merupakan bukti kemukjizatan, maka tidak ada satu pun orang yang mengaku dirinya sanggup membuat kitab yang menyerupai al-Qur’an ini.

“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilaat: 41-42)

”Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 23-24)

Al-Qur’an Sebagai Pola Baru Mukjizat

Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang berbeda dengan mukjizat-mukjizat para rasul seluruhnya. Karena, dia adalah mukjizat yang kekal abadi untuk selamanya, tidak akan musnah bersamaan dengan wafatnya seorang rasul yang menerimanya, sebagaimana al-Qur’an merupakan/berisi kisah tentang keadaan (kondisi) para rasul terdahulu. Dia adalah mukjizat yang memberi khitab (perintah) kepada akal fikiran dan hati, sebagaimana dia juga memberi khitab kepada fitrah manusia sepanjang masa dan tempat. Sungguh mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah mukjizat yang terbaca, yaitu al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tiadalah diantara para nabi seseorang yang diangkat nabi melainkan dia sungguh dikaruniai bukti-bukti (mukjizat) serupa yang telah dipercayai oleh manusia, sedangkan yang dikaruniakan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku, dan aku berharap agar aku menjadi seorang diantara mereka yang paling banyak pengikutnya nanti pada hari kiamat.” [1]) 9 [1] . Muttafaq’alaih, Lihat kitab Misykaat al-Mashaabiih, 3/124

Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk menjadikan mukjizat rasul terakhir ini berupa suatu yang inderawi (hissiyah) yang barangkali akan membuat orang yang melihatnya lupa begitu saja. Kalaupun seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, niscaya Dia pasti menurunkan mukjizat besar yang mampu melipat-lipat leher (baca: menundukkan) orang-orang yang menyaksikannya, sehingga mereka tidak bisa lagi membantah dan mengingkari mukjizat tersebut. ” Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.” (QS. Asy-Syu’araa:4)

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghendaki agar kerasulan ini menjadi kerasulan yang terbuka bagi umat seluruhnya dan generasi seluruhnya, dan bukan merupakan kerasulan yang tertutup bagi generasi di suatu zaman dan tempat tertentu. Maka, dia juga merupakan mukjizat yang terbuka bagi orang dekat dan jauh, bagi seluruh umat dan seluruh generasi yang ada. Sementara, mukjizat-mukjizat lainnya hanya akan menundukkan orang-orang yang menyaksikannya saja, lalu setelah itu, dia hanya tinggal sebagai kisah yang akan diceritakan, bukan suatu realitas yang kasat mata. Inilah mukjizat Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang setelah lebih dari empat belas abad lamanya masih tetap menjadi kitab yang terbuka dan manhaj yang tertulis. Yaitu, kitab yang dijadikan pegangan/pedoman oleh umat sekarang ini sepanjang hidup mereka –-seandainya mereka diberi petunjuk untuk menjadikannya sebagai pemimpin mereka— dan kitab yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengan sempurna, serta yang menggiring mereka setelah itu (baca: kematian), ke alam yang lebih baik, cakrawala yang lebih tinggi, dan tempat persemayaman yang lebih ideal.

Beberapa Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an

Al-Qur’an bisa dikatakan mukjizat dalam semua aspek dan sudut pandangnya:

Dia merupakan mukjizat dalam susunan ta’bir (penuturan kalimat)nya dan dalam rangkaian seninya berdasarkan keistiqamahan atau konsistensinya terhadap satu kekhususan di dalam satu tingkatan, tidak berbeda-beda dan tidak berlapis-lapis. Dan, kekhususan-kekhususannya tersebut tidak akan terbelakang sebagaimana dia berisikan tentang keadaan perilaku-perilaku manusia. Sekalipun di sana tampak adanya peningkatan dan penurunan, kekuatan dan kelemahan dalam perilaku seseorang yang bisa berubah-ubah keadaannya, namun kekhususan-kekhususan al-Qur’an dalam konteks ta’bir ini akan tetap eksis pada satu rangkaian dan satu tingkatan, stabil dan tidak akan terbelakang, yang menunjukkan pada sumbernya yang tidak akan berbeda-beda keadaannya (konstan).

Dia merupakan mukjizat dalam bangunannya, dan dalam keteraturan dan saling melengkapi antar bagian-bagiannya. Maka, tidak ada kesalahan dan kerancuan (kontradiksi) di dalamnya. Setiap taujihat (arahan-arahan)nya akan saling bertemu, tersusun rapi, dan saling melengkapi, serta meliputi kehidupan manusia, mengupasnya secara tuntas, menjawab permasalahannya, dan memotivasinya, tanpa ada satu pun bagian dari manhaj sempurna ini yang bertentangan dengan bagian yang lain, dan tanpa ada sedikit pun darinya yang berbenturan dengan fitrah manusia, sekalipun fitrah manusia cenderung mengabaikannya. Semuanya diikat pada satu poros di dalam kesesuaian yang tidak mungkin terjangkau oleh pengalaman manusia yang terbatas. Dan, mesti harus ada pengetahuan bersifat komperhensif yang tidak terikat dengan waktu dan tempat, yang berada di dalam wilayah cakupannya dan peraturannya.

Dia merupakan mukjizat dalam hal kemudahan untuk masuk ke dalam hati dan sanubari manusia, memegang kunci-kuncinya, membuka pintu-pintu penutupnya, menampung berbagai media perasaan/emosi dan reaksi di dalamnya, serta menangani berbagai kesulitan dan problematikanya secara luwes dan mudah lagi menakjubkan, juga dalam hal mendidiknya dan mengarahkannya sesuai manhajnya dengan melalui sentuhan yang paling lunak, tanpa ada kerumitan, ketimpangan, dan kesalahan.

Dan, dia juga merupakan mukjizat dalam hal pemberitahuannya tentang perkara-perkara gaib yang ada di balik alam kasunyatan (alam realita), seperti alam malaikat, jin, hari akhir, serta hal-hal gaib yang telah lalu dan yang akan datang. Dan, apa yang tersingkap oleh ilmu manusia dari sejarah manusia, juga berbagai peristiwa yang menimpanya, akan membenarkan apa yang telah dibawa oleh Nabi yang ummi ini, yang tidak bisa menulis maupun membaca kitab.

Dia merupakan mukjizat di dalam apa yang dikabarkan sebagai hakikat alam, yang tidak seorang pun manusia mendapat petunjuk untuk mengetahuinya, dan menyingkap sebagian rahasia-rahasianya, selain hanya satu hadis (perkataan) saja.

Serta, dia merupakan mukjizat di dalam syariat dan hukum-hukumnya, yaitu dalam hal kesempurnaan, kemuliaan, kelayakannya bagi manusia sepanjang masa.

Mukjizat Ilmiah Di Dalam al-Qur’an

Yang menarik di dalam al-Qur’an ini adalah bahwa kemukjizatannya akan selalu baru sepanjang zaman. Maka, setiap kaum akan sampai kepada mereka al-Qur’an ini, sehingga mereka bisa melihat kandungannya dengan mata penglihatan orang yang mencari ibrah dan mau membuka mata. Mereka akan mendapati di dalamnya tanda-tanda dan bukti-bukti yang bisa menguatkan bagi mereka bahwasanya al-Qur’an berasal langsung dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sementara kita pada saat ini mampu menghasilkan ilmu-ilmu yang dapat menyingkap sesuatu yang merupakan bagian dari rahasia-rahasia alam. Maka, kita pun meneliti galaksi (tempat-tempat bintang), peredarannya, bentuknya, dan muatannya, sebagaimana para pakar meneliti proses penciptaan makhluk beserta rahasia-rahasia di balik makhluk-makhluk tersebut. Mereka meneliti atom dan sel tubuh, serta menyelami dasar bumi dan lautan. Namun, tiba-tiba kita dikejutkan oleh tesis yang menyatakan bahwa kebanyakan hakikat yang dicapai oleh para pakar tersebut setelah melalui berbagai kajian yang panjang dan jerih payah yang meletihkan ternyata telah dibicarakan atau telah disinyalir secara jelas oleh al-Qur’an al-‘Adhim sebelumnya.

Semua inilah yang semakin menambah dan memperdalam keimanan, dan membuktikan bahwa al-Qur’an al-‘Adhim ini diturunkan langsung dari sisi Allah, Dzat Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Al-Qur’an ini adalah perkataan/ucapan sekaligus perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan makhluk adalah buatan dan ciptaan-Nya. Maka, jika Sang Pencipta membicarakan ciptaan-Nya, dan menuturkan sesuatu dari hakikat makhluk ciptaan-Nya tersebut, maka sudah pasti akan terjadi persesuaian antara khabar qauli (berita yang bersifat ucapan) dengan khalq kauni (penciptaan yang bersifat alamiah). Karena, ucapan tersebut adalah ucapan Allah sendiri, dan ciptaan itu pun adalah ciptaan-Nya sendiri.” Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS.Al-”Araaf:54)

Sedangkan jiwa manusia akan sepenuhnya berserah diri manakala mengetahui rahasia-rahasia yang terlupakan yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelumnya. Kemudian, ternyata jiwa tersebut mendapati bahwa Nabi berkebangsaan Arab yang ummi, tidak bisa menulis, tidak bisa membaca, tidak pernah mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, dan tidak pernah belajar pada seorang guru dari keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalaam, membicarakan atau mensinyalir tentang hakikat ilmiah tersebut. Maka, kalau bukan al-Qur’an ini merupakan wahyu dari Sang Pencipta, niscaya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mampu menetapkan hakikat-hakikat samar ini, juga rahasia-rahasia tersembunyi yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelum masa ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu).” (QS. Al-‘Ankabuut:48)

Pendeta Nasrani Menggunakan Teks-Teks Ilmiah Di Dalam Kitab Taurat Untuk Mengajak Orang-Orang Komunis Masuk Agama Nasrani

Seorang pendeta Nasrani telah menggunakan metode ini dalam mendakwahkan agama Nasrani. Pernah terdapat 12 mahasiswa berasal dari China yang belajar di universitas California, USA, menghadap kepada seorang pendeta yang bernama Barkeley, dan meminta kepadanya agar menyusunkan jadwal kajian mereka seputar agama Nasrani pada hari-hari minggu. Tujuan mereka di balik semua itu, adalah untuk mengenal seberapa jauh pengaruh agama terhadap kebudayaan Amerika.

Lalu, pendeta tersebut memanggil seorang ilmuwan pakar matematika dan astronomi yang bernama Prof. Peter dan Stoner, dan meminta darinya agar menangani masalah pengajaran terhadap para pemuda China tersebut.

Selanjutnya, guru besar dalam bidang matematika dan astronomi ini memilih pembahasan sifr at-takwiin (bagian kitab perjanjian lama tentang penciptaan) dari kitab Taurat. Di dalam pembahasan ini terdapat beberapa maklumat (data) yang membicarakan tentang permulaan alam (kosmos). Sang professor ini tidak mengajarkan Taurat kepada mereka dengan metode tradisional (konvensional), dan dia bersama sejumlah mahasiswa China tersebut menghabiskan musim dingin untuk mempelajari berbagai data tersebut, lalu mereka mencatat dalam setiap kajian tersebut berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak fikiran mereka seputar apa yang mereka dengarkan. Setelah itu, mereka merujuk kepada kitab-kitab ilmiah yang ada di perpustakaan universitas untuk meneliti kebenaran yang telah dibicarakan oleh sifr at-takwiin ini. Yaitu, sebuah tahapan yang merujuk kepada kehidupan sehari-hari Nabi Musa ‘Alaihissalaam sebelum beberapa ribu tahun yang lalu. Dan, setelah melakukan berbagai kajian panjang secara kontinyu, para mahasiswa tersebut akhirnya memeluk agama Nasrani. [2] . Cobalah tengok peristiwa ini di dalam kitab “Al-Islaam Yatahaddaa” karangan Wahiduddin Khan, hal. 121, dan penulis telah menukil dari pengarang kitab tersebut di dalam kitabnya, ” The Evidence of God” P.P. 137-38.

Kita hakikatnya mengimani kitab Taurat dan Injil. Namun, ternyata teks-teks yang terkandung di dalamnya telah banyak mengalami perubahan, penyelewengan, dan penggantian redaksi, yaitu akibat upaya penerjemahan yang dilakukan secara terus-menerus dari satu bahasa ke bahasa lainnya, dan karena ulah tangan para ulama sesat yang telah menyelipkan/memasukkan di dalam kedua kitab ini sesuatu yang bukan darinya, dan sebaliknya mereka membuang dari keduanya teks-teks yang tidak berpihak kepada mereka. Maka, selebihnya adalah kebenaran yang masih tersisa di dalamnya bercampur dengan banyak sekali kebatilan. Sedangkan al-Qur’an adalah kitab samawi yang terakhir, yang tidak pernah berubah-ubah dan berganti-ganti redaksi, dan hakikat-hakikat alam yang terkandung di dalamnya pun sangat banyak dan terbukti kevalidannya.

Beberapa Contoh Dari Kemukjizatan Ilmiah Di Dalam Al-Qur’an

Sebenarnya tulisan dalam konteks semacam ini telah banyak ditulis. Namun, di sini, saya akan menyebutkan beberapa contoh saja. Diantaranya:

Tahapan penciptaan janin. Al-Qur’an menguraikan tahapan-tahapan ini secara terinci dan akurat, dan tidak ada diantara para ulama yang pernah mengetahui rincian-rincian ini selain baru-baru ini saja.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
” Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari seumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.” (QS. Al-Hajj:5)

” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minuun: 12-14)

Cobalah kamu merujuk kepada sumber-sumber medis yang membahas tentang penciptaan janin, apakah kamu menemukan di dalam apa yang telah dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita tersebut, sesuatu yang bertentangan dengan hakikat-hakikat yang telah disebutkan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui ini?

Kotoran yang terdapat di dalam darah haidh. “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. ” (QS. Al-Baqarah:222).

Bagi para ilmuwan zaman sekarang telah nyata/terbukti, bahwa darah haidh merupakan darah rusak, yang mengandung banyak virus dan berbagai macam bakteri (kuman). Jika seseorang lelaki menggauli istrinya di tengah-tengah masa haidh, maka dikhawatirkan dia akan terkena peradangan dan penyakit-penyakit yang akan menyiksanya.

Di samping itu, alat kelamin (organ seksual) pada wanita tersebut akan terinjeksi sewaktu haidh, khususnya rahim yang akan terinjeksi sampai mengalami hemophilia (kehabisan darah). Jika seorang lelaki menggauli istrinya, maka itu akan berakibat terkoyaknya dinding-dinding rahim wanita, hingga tersebarlah penyakit menular melalui berbagai virus yang ada pada dinding-dinding tersebut ke bagian-bagian tubuh lainnya, yang mana itu sangat berpengaruh pada kesehatan wanita tersebut. Kemudian, di sana juga terdapat kotoran dari jenis ketiga, yaitu gangguan psikis yang akan menimpa kedua pasangan suami-istri tersebut. Maka, kebanyakan lelaki dan perempuan akan dirundung rasa ketakutan dan kepanikan jiwa (nervous), yang akan berakibat pada penyakit lemah syahwat yang terkadang sangat parah.

Tempat urat-urat saraf yang akan merasa (sakit) bila terbakar dan tertimpa musibah. Urat-urat saraf ini hanya berada di dalam kulit saja. Karenanya, kalau seandainya usus-usus manusia diputus setelah dibelah perutnya, maka dia tidak akan merasa usus-ususnya terputus. Dan, al-Qur’an telah mensinyalir hakikat ini di dalam firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa:56)

Dan, tidak bertentangan dengan semua ini dengan adanya manusia yang merasakan dingin dan panas di dalam usus-ususnya. Karena, yang ada di dalam kulit adalah urat-urat saraf yang merasakan sakit karena tertimpa musibah dan kebakaran. Sementara, di sana masih terdapat banyak sekali urat-urat saraf lainnya yang tersebar di dalam anggota tubuh manusia.

Alam yang membentang luas, “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzaariyaat:47)

Kalangan mereka yang tidak pernah membaca al-Qur’an, namun mengkaji tentang ciptaan/makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan saling bertanya-tanya, “Apakah bentuk ruang angkasa yang meliputi kita ini?” Dan, sebagai jawaban dari pertanyaan ini, mesti dikatakan bahwasanya ruang angkasa tidak mempunyai bentuk tertentu, mengingat dia akan terus-menerus mengalami perluasan.

Berkaitan dengan pembahasan ini, DR. Eddington berkata, “Bisa saja kita memberi perumpamaan pada bintang-bintang dan galaksi, dan seolah-olah mereka berdiri di atas permukaan balon karet yang ditiup secara terus menerus. Dan begitulah, bahwasanya benda-benda langit ini akan menjauh dari sebagian benda langit lainnya lebih banyak dan lebih banyak lagi, akibat adanya proses penggelembungan. Seperti suatu unsur yang terlepas dari gerakan-gerakan yang biasanya, dan dari ekses-ekses yang ditimbulkan oleh adanya daya gravitasi diantaranya.”

Dan, setelah perkataan Prof. Eddington ini, seseorang bernama Julian berkata, “Alam ini memiliki kecenderungan alamiah untuk bertambah luas/lebar, yang kira-kira bisa menandingi daya gravitasi yang terdapat dalam suatu materi (benda)…. Sesungguhnya separoh wilayah ruang angkasa pada saat ini, tidak kurang dari sepuluh kali lipat dari separoh wilayahnya yang asli, menurut hitungan-hitungan Professor (Eddington). Dan, jumlah luas yang sebenarnya akan bertambah secara terus-menerus, …. Sedangkan jumlah pertambahannya ini akan membesar pada waktu-waktu mendatang.” [3]

Matahari yang berjalan di ruang angkasa. Sebelumnya terdapat dugaan kuat bahwasanya matahari berputar mengitari bumi, lalu belakangan terbukti oleh para ilmuan bahwasanya bumilah yang berputar mengitari matahari. Namun, para ilmuwan tersebut telah membuat kesalahan ketika mereka mengklaim bahwasanya matahari tersebut diam (tidak bergerak). Terakhir kali, nyatalah bagi mereka bahwasanya matahari berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Dan, ungkapan yang paling sesuai berkenaan dengan gerakannya ini, adalah “berlari”. Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika mengatakan, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yaasiin:38)

Di dalam madu terdapat kesembuhan bagi manusia. Belum sampai tiga puluh tahun lamanya, di Amerika beredar isu bahwasanya madu bisa menularkan kuman (bibit penyakit). Dan, bahkan belum terlihat manfaat-manfaat madu secara medis oleh para ilmuan, kecuali baru-baru ini saja. Dan , kini, madu terdapat di dalam lebih dari lima puluh obat, dan telah terbukti bagi para dokter bahwasanya madu bisa membunuh kuman. Maka, tidak ada satu pun kuman yang bisa hidup di dalamnya. Juga, telah terbukti bagi mereka bahwasanya madu merupakan obat yang bagus bagi umumnya jenis penyakit, seperti kekurangan darah (anemia), penyakit paru-paru, penyakit alat/saluran pernafasan, penyakit mata, penyakit kulit, dan masih banyak lagi yang lainnya. [4] Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika mengatakan,”Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)


0 Responses to “Seputar Kemukjizatan al-Qur’an”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: