16
Mar
10

Munculnya Hadits Palsu

Pengertiannya: Kedustaan yang dibuat-buat kemudian disandarkan kepada Rasulullah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam telah mengisyaratkan bahwa akan ada nanti orang-orang yang membuat hadits palsu dengan sabdanya:

“Akan datang di akhir zaman nanti para dajjal dan pendusta, mereka mendatangimu dengan hadits-hadits yang belum pernah kamu dengar juga belum pernah di dengar oleh bapak-bapak kamu, maka berhati-hatilah kamu dari mereka, jangan sampai mereka menyesatkan kamu dan menimbulkan fitnah terhadapmu.” (HR Muslim)

Derajatnya dalam ilmu Mushthalah Hadits adalah termasuk kedalam bagian dari hadits dhaif bahkan pada derajat yang paling rendah.

Hukum meriwayatkannya: Para ulama bersepakat bahwa tidak halal bagi seseorang untuk meriwayatkan suatu hadits dalam makna apapun yang telah diketahui kepalsuannya keculai disertai dengan penjelasan tentang kedustaanya dengan tujuan untuk memperingatkan orang-orang awam yang tidak mengetahui agar tidak tertipu dengan hadits tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda:

“Barangsiapa menyampaikan suatu perkataan dariku yang telah diketahui bahwa itu adalah kedustaan yang dibuat-buat, maka ia termasuk salah seorang pendusta.” (HR. Muslim)

Cara-cara yang digunakan oleh pembuat hadits palsu:

Dengan membuat kalimat sendiri, kemudian disusun sebuah sanad (mata rantai perawi hadits) lalu diriwayatkan kepada orang lain.
Atau dengan mengambil kata-kata ahli hikmah atau nasehat, kemudian dibuat rantai sanadnya.
Cara mengetahui hadits maudu’:

Pengakuan dari si pemalsu itu sendiri, Seperti:
* Pengakuan Abi Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa ia telah memalsu hadits tentang fadail Al Qur’an surat demi surat.
* Abdul Karim bin Abil-‘Auja’. Dia dibunuh oleh Muhammad bin Sulaiman Al-Abbasy, seorang Amir di negeri Basrah. Sebelum dibunuh ia berkata: “Aku telah membuat empat ratus ribu hadits palsu, aku halalkan yang haram dan aku haramkan yang halal.”

Senada dengan pengakuannya
Seperti seseorang yang meriwayatkan suatu hadits dari seorang syaikh, namun ketika ia ditanya tahun kelahirannya, ternyata ia lahir setelah wafatnya syaikh tersebut, dan tidak pernah didengar hadits itu kecuali dari dirinya. Ini sudah menunjukkan pengakuan kedustaannya.

Contoh: Al-Makmun bin Ahmad Al-Harawy mengaku telah mendengar hadits dari Hisyam bin Ammar. Ketika Al-Khatib Ibnu Hibban bertanya kepada Al-Makmun “Kapan engkau masuk Syam (Negeri tempat tinggal Hisyam)?” Ia menjawab, “Tahun 250 H”. Ibnu Hibban berkata, “Hisyam yang kamu riwayatkan tadi wafat tahun 245 H”. Al-Makmun menjawab untuk berkelit, “Ini Hisyam bin Amar lainya.”

Tanda-tanda pada si perawi Hadits
Seperti seorang syiah rafidhah meriwayatkan hadits tentang keutamaan-keutamaan shahabat Ali bin Abi Thalib dan Ahlul bait; atau seseorang yang bertaqlid kepada mahzab tertentu kemudian membuat hadits palsu untuk merendahkan mahzab-mahzab lainya. Seperti kisah Al-Makmun bin Ahmad Al-Harawy. Ketika disampaikan kepadanya tentang Imam Syafi’i yang banyak pengikut di Khurasan. Begitu ia mendengar itu ia langsung menyusun sanad sendiri, lalu membuat hadits palsu berbunyi: “Akan datang nanti di antara umatku seorang yang bernama Muhammad bin Idris (yaitu Syafi’i), dia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis. Akan datang nanti di antara umatku seorang yang bernama Abu Hanifah, dia adalah pelita bagi umatku.”

Tanda-tanda yang terdapat pada riwayatnya
Seperti lafal hadits yang rancu; mengandung makna yang rusak, keji dan jelek; atau bertentangan dengan dalil-dalil Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’: atau tidak bisa diterima oleh akal yang sehat (akal yang tidak menyimpang dari sunnah), dan kenyataan yang ada; atau melampaui batas dalam menentapkan ancaman Allah terhadap perkara kecil, dan melampaui batas dalam menetapkan janji Allah terhadap perkara yang sepele.
Seperti: Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan hadits “Sesungguhnya perahu Nabi Nuh tawaf di Ka’bah tujuh kali, kemudian shalat di maqam Ibrahim.”

Dorongan para pemalsu hadits

Untuk mendekatkan diri kepada Allah
Mereka memalsu hadits dengan tujuan menyemangati manusia untuk berbuat baik, atau memperingatkan mereka agar tidak berbuat kemung-karan. Mereka kebanyakan adalah kaum yang mendakwakan dirinya orang-orang zuhud ataupun orang-orang sufy. Karena perbuatan mereka itulah banyak tersebar bid’ah dan khurafat dalam Islam. Mereka menganggap baik perbuatan itu. Padahal, mereka telah menipu dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Mereka itu adalah sejelek-jelek pemalsu hadits. Contohnya adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi, ketika ia ditanya oleh Ibnu Mahdy, “Dari mana kamu dapatkan hadits “Barang-siapa yang membaca ini maka akan begini?” Ia menjawab. “Aku memalsu-kannya untuk menyemangati manusia.”

Diantara meraka adalah suatu kelompok ahlul bid’ah yagn disebut Karramiyah, mereka membolehkan membuat hadits palsu hanya untuk tujuan menyemangati manusia berbuat baik, atau memperingatkan mereka agar tidak berbuat kemungkaran.

Bahkan sebagian dari kaum Karamiyyah ada yang berkata: “Kami tidak berdusta atas nama Rasulullah, tapi kami berdusta untuk kepentingan Rasulullah”. Ini pada hakikatnya adalah perkataan orang-orang dungu. Apakah mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa agama Islam ini telah disempurnakan, tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Dan Rasullah tidak butuh penetapan syariat yang bersandar pada kedustaan.

Membela mahzab atau kelompoknya
Terlebih lagi mazhab kelompok yang condong pada masalah politik setelah meletus fitnah ditengah-tengah ummat dan bermunculan kelompok-kelompok yang dilatarbelakangi kepentingan politik seperti syiah atau khawarij. Mereka adalah kelompok yang hanya bersandarkan atas hawa nafsu dan pemikiran semata, tidak memiliki pijakan atas Sunnah. Maka masing-masing membuat hadits palsu dengan tujuan untuk memperkokoh mazhab mereka. Seprti hadits “Ali adalah sebaik-baik manusia, barang siapa ragu maka ia talah kafir”

Mencela Islam
Mereka adalah kaum zindiq, yang menampakkan keislaman namun mereka pada hakikatnya adalah kafir. Mereka tidak mampu untuk menghan-curkan Islam secara terang-terangan, maka mereka masuk melalui cara ini. Dengan membuat-buat hadits yang berisi celaan dan kejelekan tantang Islam, kemudian memasukkan keraguan kaum muslimin terhadap Agama Islam. Contohnya adalah Muhammad bin Sa’id Asy-Syamy yang meriwayatkan hadits “Aku adalah penghujung para Nabi, tiada lagi nabi sesudahku keculai kalau Allah menghendaki.” Ia telah menambah kalimat “kecuali kalau Allah menghen-daki” ke dalam hadits yang sahih. Ia termasuk golongan para zindiq yang kemudian dibunuh dan disalib.

Mencari perhatian penguasa
Banyak dilakukan oleh ulama-ulama su’ (jelek perangainya), mereka ingin mendekatkan diri kepada penguasa dengan cara membuat-buat hadits yang disesuaikan dengan keadaan para penguasa walaupun dalam penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa tersebut. Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha’i Al-Kufy dengan Amirul mukmin Al-Mahdy. Ketika ia bertemu dengan Al-Mahdy yang sedang bermain burung, ia membawakan sebuah hadits “Tiada permainan yang bermanfaat kecuali dalam berpedang, lari dan pacuan kuda” Ini adalah hadits shahih, tapi ia menambahkan setelahnya dengan kalimat “dan bermain burung” karena ingin mendapatkan perhatian dari Al-Mahdy. Tapi kemudian Al Mahdy mengetahui kedustaannya dan menyuruh untuk menyembelih burung tersebut.

Mencari penghasilan
Seperti perbuatan tukang cerita yang mencari uang dengan cara menyempaikan hadits kepada manusia. Mereka terkadang membuat cerita-cerita yang aneh dan menakjubkan yang bisa membuat orang tercengang dan tertarik untuk mendengarkannya kemudian mereka mendapatkan uang dari orang yang mendengarkan cerita itu.

Ingin Terkenal
Dengan cara membawakan hadits yang terdengar asing/aneh dan tidak pernah didapatkan dari seorang ulama haditspun. Baik dengan cara membolak-balik sanad sehingga menjadi asing dan orang-orang ingin mendegarkannya.

Alhamdulillah, begitu besar Rahmat Allah kepada hamba-Nya Allah memunculkan di muka Bumi ini para ulama pewaris Nabi yang berjuang dengan lisan, tangan, dan pena. Mereka menghapuskan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat, penafsiran orang-orang yang bodoh, dan penyelewengan orang yang extrim.

Merekalah para ahlul hadits yang rela menghabiskan waktu untuk mencari hadits dan mengoreksi kesahihannya. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan perjalanan yang panjang walaupun hanya untuk mendapatkan satu hadits. Kepada merekalah kita bertanya, kitab-kitab merekalah yang harus kita pelajari karena mereka memang ahli dalam ilmu hadits. Agar kita memiliki ilmu sebelum mengungkapkan sebuah hadits sehingga tidak terjerumus kedalam ancaman bagi orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah. Karena tidak kita pungkiri lagi bahwa sudah banyak tersebar hadits palsu di mata masyara-kat kita, contoh yang paling populer adalah: “Perselisihan umatku adalah rahmat”

( Muhammad Yasir)

Maraji’: 1. Ba’itsul Hatsits, Syarh Ahmad Muhammad Syakir.2 Taisirul Mushthalah, Dr. Mahmud Ath-Thahhan


0 Responses to “Munculnya Hadits Palsu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: