16
Mar
10

Mencermati Istilah Bid’ah hasanah

Bid’ah hasanah sampai saat ini masih menjadi polemik dikalangan kaum muslimin, sebagian mereka menerima istilah ini dan sebagian lagi menolaknya dengan berprinsip bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Sementara itu orang yang menerima adanya bid’ah hasanah berdalih bahwa bid’ah itu dilakukan dalam rangka beribadah dan taqarub ke pada Allah. Selain itu mereka juga punya beberapa argument dian taranya:

Ungkapan Umar Radhiallaahu anhu: “inilah sebaik-baik bid’ah” ketika menda pati kaum muslimin berkumpul untuk shalat tarawih berjama’ah de ngan satu imam

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasalam :
Makna yang benar dari hadits ini bisa dilihat dalam penjelasan selanjutnya.

Jika setiap hal yang baru (bid’ah) adalah sesat maka ber arti kemajuan teknologi, komuni kasi dan sejenisnya adalah dila rang karena tidak ada pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wasalam
Inilah diantara alasan-alasan yang sering digunakan oleh mereka yang menerima adanya bid’ah hasanah. Bagaimanakah penjelasan ulama dalam masalah ini ?

Ucapan shahabat Umar Radhiallaahu anhu : “inilah sebaik-baik bid’ah”

Sebagaimana diketahui bahwa ucapan ini beliau sampaikan keti ka melihat kaum muslimin melaku kan qiyamul lail dibulan Ramadhan secara berjamaah.Yang jadi perta nyaan adalah apakah benar qiyamul lail dibulan Ramadhan dengan ber jamaah itu merupakan perbuatan bid’ah ? jawabannya adalah seba gaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsa imin bahwa itu bukanlah bid’ah bahkan termasuk sunnah rasulul lah Shallallahu alaihi wasalam, berdasarkan hadits riwa yat Bukhari dan Muslim dari Aisyah, bahwa Nabi saw pernah melakukan qiyamul lail dibulan Ramadhan bersama para shahabat selama 3 malam berturut-turut, kemudian beliau tidak melakukannya pada malam berikutnya dan bersabda:

“Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu lalu kamu tidak akan sanggup melaksanakannya”

Dan setelah Nabi Shallallahu alaihi wasalam menghentikan qiyamul lail ini maka diantara para shahabat ada yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang berjamaah dengan beberapa orang saja, dan ada pula yang berjamaah dengan jumlah besar. Keadaan ini terus berlangsung hingga akhirnya Amirul Mukminin Umar mengumpulkan mereka kepada satu imam, lalu beliau berkomentar “inilah sebaik-baik bid’ah ….dalam arti bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan kaum muslimin sebelumnya.

Dari sini jelas sekali bahwa beliau Shallallahu alaihi wasalam, tidaklah membuat atau menciptakan ajaran baru dalam islam berupa qiyaumul lail di bulan Ramadhan dengan satu imam, namun justru yang beliau lakukan adalah menghidupkan kembali sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, karena sudah tidak ada lagi kekhawatiran akan diwajibkannya shalat malam tersebut. Lain dari pada itu beliau adalah orang yang sangat patuh kepada firman Allah ta’ala dan sabda rasulullah Shallallahu alaihi wasalam. Tidak mungkin bahwa apa yang beliau ucapkan “inilah sebaik-baik bid’ah” adalah bid’ah sebagaimana yang disabdakan Nabi :setiap bid’ah adalah kesesatan. Oleh karena itu tidak layak bagi kita kaum muslimin memper-tentangkan sabda rasul dengan perkataan shahabatnya yang sudah dijamin oleh Nabi sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik dan paling adil.

Hadits Nabi “Man sanna……”dst

Mereka yang membenarkan adanya bid’ah hasanah mengartikan hadits yang kami sebutkan dimuka (point 2) sebagai berikut:

Barang siapa yang (membuat atau mengadakan) Sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti perbuatanya itu sampai hari kiamat.

Hadits ini berkaitan dengan kisah orang-orang yang menghadap kepada Nabi saw dan mereka dalam kesulitan besar,maka Nabi menghimbau agar para shahabat mendermakan sebagian harta mereka untuk membantu orang-orang yang kesulitan tadi. Lalu seorang dari kaum Anshor datang dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak dan diletakkan dihadapan Rasulullah maka wajah beliau berseri-seri dan bersabda: Man sanna ….dan seterusnya.

Dari sini dapat dipahami bahwa memahami hadits sebagaimana diatas, yaitu “barang siapa membuat (mengadakan) Sunnah…dst adalah tidak benar,karena seluruh sunnah yang berkaitan dengan urusan agama sudah dijelaskan oleh Nabi.
Makna yang benar dari hadits diatas adalah sebagai berikut :

Pertama, Barang siapa berbuat (sesuatu) dalam Islam, perbuatan yang baik….dst, sedang bid’ah bukan termasuk kebaikan dalam islam.

Kedua , barang siapa menghidupkan suatu sunnah dalam Islam …dst

Ketiga, siapa yang memulai mencontohkan kebaikan dalam islam …dst.

Adapun anggapan orang tentang sesuatu yang dinilai sebagai bid’ah hasanah maka, menurut syaikh Muhammad Al Utsaimin tidak lepas dari dua hal:

Pertama kemungkinan bukan termasuk bid’ah namun dianggap sebagai bid’ah.

Kedua, memang benar-benar bid’ah yang sudah barang tentu buruk, namun dia tidak mengetahui keburukannya.

Kemajuan Tehnologi, Bid’ah?

Secara bahasa bid’ah memang punya arti ” sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya, atau sesuatu yang diciptakan pertama kali tanpa ada contoh yang mendahu luinya. Jika ditinjau dari segi ini kemajuan Iptek memang bisa dikatakan bid’ah (hal baru) atau sering disebut dengan istilah modern.

Iptek, apapun bentuknya dan bagaimanapun canggihnya itu semua hanyalah sarana, jika sarana itu digunakan untuk perbuatan yang haram maka hukumnya juga haram, jika untuk perbuatan yang diperin-tahkan maka hukumnya juga diperintahkan. Sarana bisa berubah dan berganti dari masa kemasa sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan manusia. Namun berbeda dengan syariat yang tentu saja tidak bisa diperlakukan seperti ini.

Sebagai contoh seseorang yang mau berangkat haji, kalau dulu dilakukan dengan jalan kaki atau naik unta , maka sekarang bisa naik mobil, kapal, atau pesawat, ini tidak jadi masalah karena semua itu merupakan sarana, namun kain ihram yang tidak berjahit tidak bisa diganti dengan baju biasa, gamis, atau yang sejenisnya meskipun teknologi textil dan menjahit semakin maju, karena yang disyariatkan ketika seseorang sedang berihram adalah memakai pakaian tak berjahit.

Dengan demikian yang dimak-sud oleh rasulullah bahwa setiap bid’ah itu sesat adalah hal-hal baru dalam urusan syariat (agama), karena urusan syariat adalah tauqifi yaitu mengikuti apa-apa yang disampaikan oleh beliau Shallallahu alaihi wasalam .

Benarlah apa yang disampaikan imam Asy Syatibi ketika mendefini sikan bid’ah , yatu :” Cara dalam agama yang dibuat buat menyaingi syariat dan dilakukan dengan tu juan seperti halnya tujuan menja lan kan syariat”. Juga definisi-definisi lain dari para ulama dan masyayikh bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam sabda-sabda Nabi Shallallahu alaihi wasalam adalah dalam hal agama (syariat), karena memang tugas para rasul adalah untuk menyampai kan syariat. Allah berfirman: QS:5:67.

Hai rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari rabb-mu.(QS:5:67)

Sebagai rasul pilihan yang sudah barang tentu memiliki sifat amanah dan tabligh maka seluruh apa yang diturunkan kepada beliausaw telah disampaikan dengan disaksikan oleh para shahabat yang hadir dalam haji wada’.Dengan demikian Islam telah sempurna dan tidak perlu tambahan baru lagi.

PENUTUP

Telah sepakat kaum muslimin baik yang menerima atau menolak adanya bid’ah hasanah terhasdap hadits nabi:

Jauhilah perkara-perkara baru karena segala hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.

Jika seseorang mau membuktikan bahwa disana ada bid’ah hasanah maka konsekwensinya ia harus bisa membuktikan adanya dhalalah hasanah (kesesatan yang baik) wallahu A’lam.


0 Responses to “Mencermati Istilah Bid’ah hasanah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: